Jumat, 27 Desember 2013

DESEMBER

Jangan marah padaku kalau aku menangis... Hari ini saja... Kau boleh lihat sendiri nanti. Tidak lama lagi aku akan kembali bekerja, tertawa, dan mengoceh seperti biasa... Aku janji. 
Fathan 
Aku menatap monitor, mengerjap. Berharap udara malam segera membenamkan kesadaranku agar lekas terlelap. Berkutat dengan pekerjaan kantor membuat saya akrab dengan insomnia, dan selalu ada seseorang yang turut lembur demi menemaniku sebatas pesan singkat agar Aku mampu mengerjakan semua tugas dengan baik. Sementara Aku khawatir dengan kesehatannya jika harus selalu tidur kurang dari tujuh jam. Aku segera menuju kamar mandi, mengambil wudhu’. Barangkali Tuhan akan segera menina bobokkanku setelah sujud panjang. ‘Sudah semua kerjaannya?’ Seseorang itu, yang kupanggil  
Rhea mengirim pesan singkat. Aku segera menekan tombol reply ‘Iya.. silakan istirahat, aku mau tidur’ *** Telah berkali-kali aku hayati, punggungmu saja Kau ajari aku mengintip dibalik jendela karena aku tak akan mengejarmu. Dari jarak ini, nyaman aku melihatmu sebatas punggung, tanpa bisa kutau ada bagian lain. Aku bahagia, aku bisa memiliki apa yang sanggup kumiliki. Menyadari bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa kupaksakan wujudnya. Rhea Pagi adalah waktu untuk bangun lebih awal, sekedar mengingat bahwa aku punya impian sederhana, mencintai seseorang sebelum matahari. Mengingat hal ini aku tersenyum saja di dekat jendela. Pertemuan kami adalah kebetulan sistematis, Tuhan saja yang tahu alurnya. Tidak juga aku atau dirinya. Siapapun tak bisa menebak misteri apa yang Tuhan siapkan di hari esok. Kami bertemu saat sekolah mengadakan seminar, memperingati hari lingkungan. Ia yang saat itu hadir sebagai staf baru di sekolah, bersama istrinya. Istri? Iya, dia bukan lelaki yang sendiri tapi layak kucintai sepenuh hati. Bukan, bukan karena ia tampan, bukan karena ia pandai. Aku tak punya alasan yang jujur tentang kenapa aku memilih ia untuk kusebut dalam doa-doa. Dan sejak kapan cinta butuh alasan selain karena Tuhan memang menitipkan? Tolong pahami, aku bukan orang ketiga, perempuan kedua atau apapun.. aku sama sekali tak mengganggu kebahagiaan mereka. Perasaan ini murni tanpa ambisi. Aku turut berbahagia untuk kebahagiaan mereka. Bagiku, cukup ada saja.. hafal kapan ia harus makan, minum obat dan istirahat. Mengingatkan untuk menjaga kesehatan bagai seorang saudara, berakrab ria dengan istrinya yang telah kuanggap kakak perempuanku sendiri. Menjadi bagian mereka bagiku sudah lebih dari cukup. Kak Fathan dan Mbak Kana. Kepada mereka berdua kuucapkan terimakasih sedalam-dalamnya, telah membuatku merasa penting hingga detik ini. Fathan Pagi selepas shubuh aku tiba di rumah, kudapati Kana tertidur di sofa, sepertinya kelelahan menungguiku semalam.Aku menghela nafas, perempuan yang baik. Sabarnya luar biasa mengahadapiku. “Bangun.. sudah adzan..” aku membangunkannya halus. Dia mengerjap dan segera bangkit mengambil tas dan membuka jas-ku. Ia mempersilakanku istirahat sebelum bersiap kembali ke kantor. Selang beberapa menit setelah mandi aku duduk saja, melihat-lihat catatan Dead line lalu Kana masuk, dengan wajah berbinar. Sedikit menerka apa yang akan dikatakannya selain mengingatkanku untuk makan teratur. “Mas, saya.. hamil” Aku terperangah. Kaget dan takjub. Benarkah? Bukankah aku sedang tidur dan bermimpi di pagi hari? Aku bertekuk di tempat, bersujud syukur kepada Tuhan. “Jangan lupa beritahu Rhea..” dia berkata, tulus. Seperti dicubit, hatiku nyelekit. Apa Rhea harus kuberitahu? Lalu bagaimana aku harus mengatakannya? Tuhan, perasaan ini milikmu, sungguh. Tolong beri aku hati yang adil sehingga tak sedikitpun, perasaan menjerumuskanku. Tidak sama sekali. Bagi Kana yang telah kunikahi bertahun-tahun aku telah berjanji untuk menjaganya sepanjang hidup. Dan bagi Rhea yang hingga saat ini tetap menjadi perempuan yang istimewa. Baginya hanya ada doa, sebab perasaan ini bukan berarti tuntutan untuk memiliki, melainkan bukti kesejatian dan pengorabanan untuk hal yang lebih terhormat, cinta Tuhan. Aku menghargai perjuangan istriku, yang entah bagaimana Tuhan menciptakan ketulusan yang besar dalam dirinya untuk mengikhlaskan perasaanku. Lalu Rhea, dengan bertahun-tahun perasaan yang tak pernah berkurang sedikitpun, bahkan saat dia berada ditengah banyak orang yang berharap padanya. Lalu kusebut apa semua ini? Aku tidak benar-benar tahu. Tapi aku paham, ini seleksi Tuhan untuk mendewasakan kami semua dengan cinta yang tidak biasa. Sederhana namun rumit. Kupeluk istriku, ingin rasanya berterimakasih.. Rasa sabar itulah yang membuatku tak akan menyia-nyiakannya. “aku berangkat kerja dulu..” aku segera pamit, ia mengangguk dengan sisa sumringah yang sejak tadi dia tunjukkan. Setengah jam kemudian, aku kembali sibuk dengan pekerjaan. Sesekali menyesap kopi dan memikirkan bagaimana cara mengabarkan kehamilan Kana pada Rhea. Dalam syukurku tadi aku berdoa, doa yang belum ingin kuberitahukan pada siapa-siapa. Aku bersandar di kursi, memandangi ponsel yang tergeletak pasrah di meja dengan wajah bimbang. Lekas kusambar ponselku dan memencet tombol call, Rhea. “Assalamualaikum..” “Waalaikum salam..” suara dari seberang sana, milik Rhea. Aku terkesiap, tak siap. Tapi terlanjur menelpon. “Kana hamil..” tanpa basa-basi aku mengabarinya. Ada jeda beberapa menit sampai kudengar iya bertakbir dan mengucap selamat. Aku sedikit lega. Respon itu yang kuharap, dan ia berulang kali mengucapkan selamat. Usahanya tidak sia-sia. Menasihatiku tiap aku enggan pulang ke rumah, mengingatkanku untuk menemani istriku di rumah. Kuakhiri percakapan kami dengan salam. Lalu aku kembali sibuk dengan pekerjaanku yang menumpuk. Rhea Kak Fathan akan menjadi seorang ayah. Mbak Kana hamil. Iya..dia hamil. Baru saja kak Fathan mengabariku lewat telepon. Aku bahagia, turut bahagia untuk mereka dan sedih untuk diriku sendiri. Baru semalam aku menangis dalam tahajjudku, berdoa untuk rasa rinduku yang panjang dan tak pernah habis. Jendela hidupku polos tanpa stiker, barangkali hanya cinta, dan cinta tak pernah butuh aksara untuk melukiskannya. Cukuplah doa dan air mata. Aku tau kak Fathan juga merasakan hal yang sama, jadi tak perlu kutambah bebannya dengan keluhan. Tak perlu kubuat ia sesak karena tangisanku. Cukup hujan saja yang menyaksikan. Ia bahagia, sesederhana itu kebahagiaanku. *** Empat tahun kemudian. Fathan Seorang bocah kecil berlari di beranda rumah, lalu terjatuh. Ia tidak menangis, namun bangkit berlari ke dekapanku. Hari itu minggu pagi. Aku memeluknya dan menatap mata lugu itu. Inilah muara itu, muara saja. Bukan hulu. Tak ada yang berakhir dan harus diakhiri. “Aaa..yah..” Ia menyentuh wajahku. Seorang perempuan datang membawakan kami bolu pisang. Kana. Aku tak perlu berharap apa-apa lagi. bagiku dan bagi Kana, Rhea adalah saudara yang baik, sangat baik. Ia mengajari kami bersabar dalam banyak hal yang tidak sesuai harapan. Dia mengajari kami bagaimana caranya menerima kenyataan dengan baik. Ia hadia dari Tuhan untuk hidup kami. Ini Bulan Desember, hujan turun lebih sering dari biasa, aku tau ia telah menerima bahwa ketulusan kadang kala tidak harus berbentuk ikatan. Cukup hati saja yang merasakan, cukup doa yang mengekalkan. Kutatap mata anakku, Wajahnya mirip Rhea. Doaku tempo hari terkabul, itu sudah lebih dari cukup.s

Minggu, 01 Juli 2012

لحظة


أيامي وليالي ليس لي فيهما إلا وقد كنت أهيم، من زمان إلى زمان من آن إلى آن من مكان إلى مكان أرتحل في أرض الرحمن... فكنت أتسائل إلى ما في البال...
 أكنت تبقي حياتك عن شيء ؟ فما بقي لك عن شيء... والحياة تقولها طويلة، فما هي في يدك إلا يسيرة...  فها أنا ذا الآن، لقد لقيت خيرة مخيرة ولم أجد قبلها أعظم خيرة. يا ربي... الحياة تدور فما أدري كيفما تدري إلا بها إليك أشكو وأعطي، الحياة تدور كما فيها الوقت يدور...
ثم آخذ وأسكت في لحظة...                                                                                                                 فأذكر ما يقولون، الوقت كالسيف وإن لم تقطع قطعك!  نعم، إنه سيف باتر فلا بد لي إليه إعوجاجه، فأنتقل و أتنبه إلى ما كنت في الصغار، حينما أهرول وألاحق شيأ... من منزل إلى الساحة من ساحة إلى آخر، أهرول وأتبع ما يتبعني فما هو إلا ظلّ مضلّ فألاحقه حتى أكون في الكبار، ولم أزل ألاحق ما يلاحقني حتى أصل إلى قاعة من قاعات المذكرة، آنذاك، جلست في المدرسة الإبتدائية... وأكثر أيامي وأوقاتي مستنفذ لمروري وخطوتي إليها.  فأصبحت من المنزل، لبداية خطوتي إلى المدرسة  وأنا في لبس الزي  والبزّة الرسمية، فيقولون أنني طالب المدرسة...  المجهّز بالدفاتر والكتب والقلم والمرسم  في المحفظة المصنوعة بالبلا ستيك الأسود والأبيض. (فربما ها هو ذا شيء ذو فكاهة في الزمان...)     ففيها أضمّ بالأصدقاء الصغراء والكبراء والأساتذة الذين جاؤوا من القرب والبعد العالمون والمتزينون بمحاسن الأخلاق والورع... ومن المدرسة أعيد خطوتي إلى المنزل حتى فأحرقتني الشمس على رأسي تدل على أنه نهاية الدرس، أتمنى على حصول ما أتمنى من العلوم والمعرفة والفوز والبركة.  هكذا كل أيامي وأوقاتي...  مهما كان ما أنال مكتوب ومقبول عند الله رب العزة والجلال.
ولكن، قلق قلبي... لم يزل يأمرني ويكلف... أن ألاحق شيأ... شيأ ما لا أدري.
إنني هائم...  إنني هائم...
وكم ألاحق ما يلاحقني من مكان إلى مكان من حين إلى حين حتى أكون مثل هذا الآن...  فما أجد ما أفاد إلي قط إلا وقد سبق كل شيء ووقت في الخسران.
 بالجملة أقول، كل شيئ في لحظة... يمر بالسرعة، إن كان ذلك في فيه والنبذة، والكلام والكتابة.
فبدى لي ان العيش في هذا الدار ليس شيء أهم إلا فحسب الانتظار... انتظار دار المنتظر في داره الرحمن الذي فيه الجنة والنار... والانتظار لا يخلو من نفوذ المسافات والأوقات،
ولذلك أقول لا نيل لك من أمل ولو بمثل الجبل إن لم تستخدم أوقاتك إلى ما يفيدك وما ينيل.. لأن إفادته إلى الصالحات والنافعات خير من الطالحات واللغات، هكذا في حياة الإنسان ألف قصة و شأن.
فأقول دوما، ياربي... طوبى لي أعبدك كل أيامي وأوقاتي، لولاك يا ربي ما كنت أدري إلى من أشكو سائر أموري.

Minggu, 25 Maret 2012

نور على نور

يا مولي..0
دع لي... أعتنق نورك الأنيق
ولو على ذلك لم أطيق
ولو في بحر أماني العميق
يا مولي... 0
أذن لي... بنورك ألوّن ليالك البهيم
لأعرف من هو ظا لم ورحيم
فبدى النعيم والجحيم

لأنّ نورك نور مبين
إليه أشتاق وأحين

الهيمان: عبدك العاصي اتآك

Rabu, 25 Januari 2012

PENJAMU MALAM

Agustina Putri

-Untuk pemberi mimpi di bulan Februari-

Kau pengukur benang

Yang menjamuku girang

Mengundangku tuk terus berenang

Di sepertiga malam yang panjang

Hingga jua….

Aku gila….

Dihadang bata yang mengistana

Sabtu, 14 Januari 2012

SEONGGOK PIALA LUKA

Oleh: Agustina Putri M**

Bola raksasa berpoles kuning emas di ufuk timur perlahan-lahan mengintip bumi. Malu-malu, ia mengibaskan sayap kekuninganya di pipi langit pagi. Serupa dengan burung pipit yang mengganjonjotkan kedua kakinya di batang pohan, sambil menyanyi dengan suara serak nan merdu. Setelah lagu yang ia nyanyikan berada dititik tamat, ia menoleh dan melihat sayapnya secara bergantian. Seolah memberi isyarat,apakah kalian siap membawaku terbang?Tanpa menunggu lama, burung pipit itu meruncing ke jantung langit.Menyisakan garis yang tak terbaca.Ia melelang di dasar langit. Terlihat linglung dan kebingungan.Ternyata, kebahagiaan yang ia pamerkan barusan, bukan jaminan bahwa harinya akan selalu menyenangkan.Mungkin hari-hariku juga begitu.Aku mulai duduk menekuk lutut setelah lelah mengamati aktifitas burung pipit itu. Dari mulai ia menggeliat di pohon mangga depan asramaku, hingga akhirnya ia terbang kaku di langit yang mulai membiru.Aku masih diam dalam dudukku dan hanya membisu, mengamati daun hijau yang tersipu malu ditiup angin yang menerpanya lesu. Ah…..mudah sekali daun itu tersipu. Padahal angin yang meniupnya hanya berlalu tak sengaja.Aku melingkarkan kedua tanganku di kedua lutut yang sedari tadi bersenggama. Melihat langit pagi yang tak jadi untuk berseri., aku jadi ngeri. Sungguh!aku tak ingin hari kemarin terulang lagi. Menangis sesenggukan bersamaan dengan butiran air yang diutus langit agar membasahi tanah yang keronta.Aku terus membenamkan kepalaku pada kedua lutut yang mulai kesemutan.Berusaha menahan butiran air mata yang sepertinya mendesak untuk keluar.Oh Tuhan…..ternyata aku tak mampu untuk bertahan….Aku terlalu mudah untuk menangis lagi seperti kemarin.Apalagi jika otakku sedang merekam kenangan-kenangan yang dulu menyenangkan.
Saat dulu ,aku duduk diatas hamparan koran bersama- teman-temanku. Menunggu sang pemandu acara mengumumkan masing-masing siswa yang bakal mendapat keberuntungan. Menjadi Ranking kelas atau bahkan Tauladan. Entahlah…..sudah sampai dimana MC acara itu berhasil melewati susunan acara. Yang jelas,waktu itu mataku sudah mengantuk dan enggan diajak terbuka. Aku tak lagi bisa duduk tegap,dan akhirnya terlelap….
“Ifa…Ifa…..bangun!namamu dipanggil tuch….”belum sempat bermimpi, Fina sudah menyentuh bokongku dan mengguncang-guncangkan tubuhku tak sabar. Aku membuka mata setengah tak sadar, tapi akan tetap sadar jika ada orang yang menyebut namaku.
“Sekali lagi.Untuk kelas X IPS 2. Ranking pertama atas nama Alifa Zahrana Kamila”. Mataku membulat.Spontan aku berdiri tegak dan melangkah sigap. Tuhan…..inilah mimpi indahku di dunia nyata,saat barusan aku tak sempat bermimpi indah di dunia mimpi yang maya…? Aku membatin sambil sedikit menyunggingkan senyum saat menerima seonggok piala yang berwarna kuning emas. Lalu….senyumku benar-benar melebar saat Ibu wali kelasku mendaratkan kecupan di pipi kananku….
***
14.00. Siang itulah hari keduaku berlibur semester kedua atau lumrahnya Haflah di kampung halamanku. Yah…. Setelah kabar gembira yang kuberitakan pada mama papa atas keberhasilanku membawa seonggok piala bahagia. Sungguh! Betapa bahagianya aku saat mama papaku melumat pipiku bergantian hingga merona.Tuhan……semoga kebahagian ini bertahan lama….Harapku penuh waktu itu. ***
Masih pada aktifitas semulaku. Memoles wajah dengan bedak seadanya kemudian memasang kerudung merah muda di kepala. Belum selesai ku menggunakannya, teriakan mama mengusik kegiatan ‘berdandan’ku.
“Ifa…..pakai jilbabnya jangan terlalu lama!haflahnya udah mau di mulai tuch….”
“Ugh…”aku mendengus kesal sambil memasang jilbabku buru-buru. Acara haflah inilah yang sering membuatku terusik jika libur haflah tiba. Karena, meski aku menolak untuktidak ikut, mama tetap bersikeras agar aku menghadiri acara yang diadakan sekolah yang kebetulan tempatku sekolah dulu.Hhmmm….meski pada akhirnya…aku non-aktifitas di sana.
Saat seperti ini.Saat mama sibuk mengurusi adikku yang wajahnya penuh make up,dan menelantarkanku didekat ibu setengah baya yang terlihat dengan penampilan sangat biasa .
“Nak,ibu pulang duluan ya….,”ibu setengah baya itu angkat bicara sambil menyentuh bahuku saat aku sedang lekat memandanginya.Aku hanya mengangguk tanpa bicara.Lalu…hanya memandangi punggung ibu paruh baya yang semakin jauh dari depan mataku.
Aku benar-benar sendiri saat ibu yang tadi di sampingku pergi.Aku berusahamengusir sepi dengan menarikan jemari diatas keypadhandphone silverku.Ah….ini bukan sepi lagi . Kalau dihadapanku justru berdiri segerombolan cowok dengan penampilan jauh dari menarik. Mereka terlihat saling mendorong satu sama lain seolah ingin mendekatiku, sambil melontarkan kata –kata yang tak bermutu.
“ Oi… Oi…. Cewek macan tucch…”kata cowok yang berambut jabrik itu.
“Manis cantik…………………….”sahut teman –tamannya yang lain.
Kata-kata mereka benar-benar membuatku jengah. Aku memasukkan hand phone ke dalam saku, lalu beranjak dari dudukku. Aih…..berani-beraninya diameraih dan mencengkram lenganku.Aku mengibaskan tangan cowok berambut jabrik yang tadi lancang menyentuhku.Sebenarnya hasratku untuk menjitak kepalanya telah membuncah di ubun-ubun. Namun…aku menjaga imageku yang tak lain adalah seorang santri. Aku berusaha tetap terlihat tenang.Walau sebenarnya jantungku berdebar superkencang karena takut.Aku melemparkan ekspresi wajah sebal pada mereka, dan mencoba untuk pergi.Ya ampunn……..mereka menghalangi jalanku…Aku mengeluh putus asa dan hanya bisa menyatukan jemariku untuk berdo’a.Berharap aku slalu baik-baik saja. Bangsat!mereka tertawa melihatku berdo’a. Ketika aku mulai menjatuhkan wajahku pada gumpalan jemari dan mulai memejamkan mata,tiba-tiba terdengar suara gagah mengagetkanku. Tapi aku tau,kata-kata itu tak tertuju untukku.
“Bisa berhenti?!kaliangak gangguin cewek yang lagi sendiri??!!!“Komplotan cowok berewok tadi langsung lari terbirit-birit saat cowok berpeci itu menegur mereka dengan kata-kata terlampau biasa,namun dibawa dengan ekspresi ngeri.Saat suasana kembali sepi,aku memberanikan diri untuk bicara.
“Makasih ya….”
“Mmm”Cuma itu respon dia…..lalu pergi meninggalkanku, lagi-lagi sendiri.Aku masih berdiri dan membisu.Tatapanku kupaku pada punggung lelaki yang menjauh dari pandanganku.Ugh……terlaludingin. Hampir menyaingi es batu…
***
“Sayang,apakah harimu semanis gula palem hingga kamu bertahan untuk tidak tidur demi menulis diary malem-malem..?”Aku hanya diam sambil garuk-garuk kepala. Mama tak banyak bicara.Karena menurut dia, pertanyaan tadi sudah mengandung suruhan agar aku segera mengatupkan kedua mata. Kemudian mama memadamkan lampu dan menutup pintu.Phufftt…… aku harus mulai mengerahkan energiku untuk memejamkan mata.Karena sejujurnya aku masih sulit mengusir wajahlelaki berpeci tadi sore yang belum ku tau namanya.Tuhan………….apa aku ini?baru saja kulihat laki-laki itu tadi. Sudahlah Ifa….Kamu sudah cukup’ berdosa’ tak menceritakan kejadian tadi pada mama. Sekarang,mau nambah dosa lagi…karena tak segera memejamkan mata..??Aku menyalahkan diri-sendiri sambil menarik selimut pinkku dengan motif-motif peri.
***
Sejujurnya,aku masih belum siap untuk beraktifitas seperti semula. Apalagi,dalam perjalanan balik ke asrama kemarin…aku tak sengaja bertemu dengan lelaki berpeci yang bebarapa hari alu menolongku. Penampilannya tetap sama. Bedanya…. dia tak terlihat dingin.Justru dia melambungkan senyuman termanisnya untukku.Alhasil…aku semakin tak berhasrat untuk kembali keasrama.Tapi mau tak mau, aku harus kembali ke asrama agar tidak di denda.Dan mau tak mau pula,aku harus mencoba fokus seperti mereka saat mengikuti tes seleksi untuk bisa masuk jurusan IPA. Yah…meski otakku tak mau diajak berkelana .Entah karena memikirkan lelaki tak jelas itu….atau karena ketidakmampuanku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang rata-rata berkomposisi eksakta.Hhm….harus berusaha meski sejatinya otakku tak bisa eksakta……
***
Aku tak henti-hentinya memuja Sang Maha Kuasa saat aku lulus melewati tes seleksi untuk masuk jurusan IPA.Sungguh!aku terlampau bahagia. Tapi sayang, kesenanganku hanya sementara.Aku bungkam seribu bahasa saat langkahku sudah ada di pintu kelas XI IPA.
“Ifa…duduk sama aku!”Fina meraih tanganku dan menyeretku ke bangkunya.Aku tetap pasang wajah heran tanpa bicara. Sembari duduk bak Arca..aku bergumam tak percaya. Tuhan……masih bisakah aku membawa seonggok piala ,jika sainganku rata-rata mantan kelas X IPS 1….?? Aku tertunduk putus asa. Semangat yang awalnya membara, kini seolah meluruh begitu saja….
***
Firasatku benar-benar nyata.Ternyata aku tak bisa bersaing dengan mereka. Aku hanya mampu melihat siswa kelas XI IPA yang juara berjejer di atas pentas sana. Siapa bilang hatiku tak terluka,hanya saja aku malu untuk mengeluarkan air mata.Karena ini salahku juga,membiarkan semangat yang dulu membara di biarkan menghilang begitu saja.Dan ini juga salahku,telah memelihara kata tak bisa tanpa berusaha.Itu alasanku. Tapi entah mengapa Fina beda. Fina justru menyalahkan lelaki yang sampai saat ini belum juga kuketahui namanya.Fina bilang,dialah penyebab semangatku tak lagi membara.Untuk yang kesekian kali aku mengadu pada-Nya.Tuhan….sungguh aku tak ingin menyalahkan siapapun. Aku hanya kebingungan alasan apa yang akan kuutarakan pada mama dan papa….aku yakin mereka kecewa….Aku bergeming sambil menahan air mata yang semakin berkaca-kaca. Tapi aku tak bisa lagi bertahan saat teman- temanku yang juara membawa seonggok piala yang membuat mereka bahagia…tapi bagiku …piala itu justru membuatku terluka, sedang melintas di depan mata….
***
Aku memaksa otakku untuk berhenti memikirkan piala-piala yang membuatku terluka.Dan mengajaknya kembali ke dunia nyata.Bukan merekam ulang kenangan-kenangan yang telah usang. Tapi otakku tak mau diajak bereaksi. Ia masih slalu mengagung-agungkan piala. Hingga mbak Ana-pun yang ternyata sedari tadi menghampiriku yang sedang banjir air mata, kuanggap mbak Ana seolah tidak ada.Mungkin mbak Ana sudah lelah menungguiku yang sedari tadi duduk kaku.Akhirnya, dia berbicara dengan nada yang tak biasa.
“Ifa……!!!Sudah cukup kau memikirkan piala!! Ia hanya akan membuatmu terluka. Kautahu…ranking itu bukan segalanya. Masih banyak jalan untuk membuat mu bahagia dan mama papamu bangga memilikimu sebagai anak pertama…… ….. ”
Aku membenamkan wajahku kepelukan mbak Ana.Sambil terus menangis sesenggukan.Sesekali, mbak Ana menyeka air mata yang membeceki pipiku. Aku berusaha berbicara meski dengan nada terbata-bata
“M…mbak A….Ana hiks….ke…keba..kebahagian…itu..hiks….ter..ternyata…hiks…. tak…ber..ber…bertahan la…lama……hiks…. ”Mbak Ana semakin mempererat pelukannya.Seolah memberi kekuatan.
Hanya mbak Ana yang mengerti segalanya….
Hanya mbak Ana yang mampu mengobati hatiku yang terluka….
Karena,dia bukan hanaya berposisi sebagai orang yang lebih tua dariku. Aku lebih menganggapnya saudara.Jadi…..jangan bertanya,mbak Ana kenapa?….jika mbak Ana ikut terluka atau malah ikut menggelindingkan air mata……………………

**Santri biasa saja,yang sedang berproses di PPA.Latee II